+62 812-3456-7890 sosmed.gemblengan@gmail.com Balai Desa Gemblengan, Garung, Wonosobo, Jawa Tengah
Pelayanan Warga Buka
Profil Desa

Sejarah Desa Gemblengan

Menelusuri jejak historis, peradaban, dan daftar kepemimpinan Desa Gemblengan dari masa perlawanan Pangeran Diponegoro hingga era modern.

Asal Usul Pembentukan Desa

Desa ini merupakan sebuah desa yang memiliki historis yang kental dengan sejarah panjang hingga akhirnya desa tersebut diberi nama Gemblengan. Sejarah penamaan Desa Gemblengan sekitar tahun 1820-an berawal dari saat terjadinya perlawanan Pangeran Diponegoro melawan para penjajah Belanda. Kala itu sebuah wilayah yang berpenduduk dengan mata pencaharian bertani belum menyandang nama, hingga datanglah seseorang yang diyakini sebagai prajurit Pangeran Diponegoro. Beliau membawa perubahan besar pada penduduk asli wilayah yang berada di lereng Gunung Sindoro sebelah barat, yaitu jiwa patriotisme pada tanah kelahiran, sistem ekonomi, kebudayaan/kesenian, dan peradaban Islam.

Terungkapnya pelatihan keprajuritan diawali dari cerita turun-temurun penduduk setempat, bahwa jiwa berperang wilayah ini sangat luar biasa di masa lampau saat belum ramai kuda Jepang (kendaraan bermotor); penduduk ini sangat dekat dengan kuda tunggangan. Terbukti dengan banyaknya penduduk yang memelihara kuda. Sampai sekitar tahun 1988 masih banyak penduduk yang menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Saking akrabnya penduduk dengan kuda, di tempat ini juga terdapat kuburan hewan perang (sebelah timur lapangan sepak bola). Cerita dari nenek moyang terungkap saat warga menemukan tulang belulang berupa kerangka kepala dan tulang kuda dalam jumlah banyak di tempat ini pada masa lalu.

Sejak zaman dahulu penduduk wilayah ini terkenal dengan jiwa kewirausahaan dan perniagaan. Salah satunya yang sampai saat ini masih berjalan adalah sebagian penduduk yang membuat kerajinan rigen (tempat menjemur irisan tembakau) yang terbuat dari bahan baku bambu yang tidak terdapat di wilayah Kabupaten Wonosobo lainnya. Rigen dijual sampai ke wilayah Temanggung dan sekitarnya. Selain rigen, juga ada beberapa jenis kerajinan alat rumah tangga, hiasan ruangan, tempat sampah, dan lain-lain yang bahan bakunya dari bambu. Penduduk sejak dahulu berlangganan menjual hasil bumi seperti tanaman hortikultura dan tembakau garangan, dan hal ini masih berlangsung sampai saat ini. Untuk lahan pertanian sendiri terdapat tanah tegalan dan sawah.

Pada masa kejayaannya, wilayah ini pernah menjadi pusat budaya dan seni. Kala itu terdapat beberapa kelompok kesenian (wayang kulit, ketoprak, debus, rudat/sejenis pencak silat, karawitan), dan terdapat pula beberapa dalang sampai tahun 1980-an. Kesenian yang masih ada sampai sekarang antara lain tari kuda kepang, lengger, pencak silat, dan rebana.

Wilayah yang berpenduduk mayoritas beragama Islam ini tidak lepas dari sejarah panjang berdirinya tempat-tempat ibadah, sistem pendidikan, dan tokoh-tokoh Islam kala itu. Di sebelah utara lapangan sepak bola terdapat cerita turun-temurun bahwa wilayah tersebut suatu saat akan muncul masjid. Wilayah yang dikenal angker ini membuat warga jarang berani menginjak wilayah yang ditumbuhi pohon bambu dan semak belukar tersebut. Wilayah ini dipercaya dulu menjadi padepokan dan kediaman tokoh sentral asal mula desa ini, dengan segala cerita mistisnya. Majunya Islam di wilayah ini juga dibuktikan dengan adanya penduduk asli yang menunaikan ibadah haji pada tahun 1980-an dan tidak pernah kembali. Pada tahun 1910-an ada pula penduduk yang menunaikan ibadah haji dan kembali pulang ke wilayah ini, dan nasab keturunannya masih jelas serta ada sampai saat ini.

Dari beberapa cerita di atas bisa disimpulkan bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat peradaban. Terdapat pula makam etnis Tionghoa di sebelah barat makam Balekambang, yang meyakinkan bahwa pada masa itu pernah ada pemukiman etnis Tionghoa di wilayah ini. Etnis ini terkenal dengan sistem perdagangan sampai saat ini, sehingga menguatkan bahwa tempat ini pernah juga menjadi pusat perdagangan. Makam Balekambang yang berada di wilayah ini dulu kala menjadi pusat pemakaman Islam daerah ini, terbukti sampai saat ini masih digunakan oleh 9 dusun dari dua kecamatan sekitar.

Makam Kyai Gembleng sampai saat ini masih menjadi tempat ziarah bagi masyarakat sekitar Desa Gemblengan. Nama Kyai Gembleng sampai saat ini juga selalu disebutkan dalam setiap acara yang ada di Desa Gemblengan, baik tahlil maupun ritual keagamaan lainnya.

Pemerintahan Desa

Kepala Desa / Pemimpin di Desa Gemblengan

Catatan keberhasilan Kepala Desa Gemblengan dari masa ke masa berdasarkan data profil dan sejarah desa.

KH. Abdurrahman

1. KH. Abdurrahman

Masa Jabatan: - 1943

Beliau kelahiran Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, pindah ke Desa Gemblengan dan menikah dengan perempuan anak sulung H. Mentadrana. Sekaligus meneruskan menjadi imam mushola pada saat itu. Kepemimpinan KH. Abdurrahman harus terhenti saat instruksi dari Ratu Wilhelmina (Ratu Hindia Belanda) dan diteruskan penguasaan Jepang, bahwa kepemimpinan setingkat Demang harus demokratis yaitu dengan pemilihan. Dengan syarat Demang tidak boleh ikut dalam pemilihan Glondong sehingga beliau mengangkat anak pertamanya untuk maju dalam pemilihan Glondong. Nama Glondong adalah jabatan di bawah Kawedanan atau membawahi beberapa kelurahan. Saat beliau menjabat pada tahun 1934, beliau membangun Masjid Baiturrahman di Dusun Gemblengan, yang merupakan masjid pertama di daerah Gemblengan dan sekitarnya.

KH. Muhammad Sakroni

2. KH. Muhammad Sakroni bin KH. Abdurrahman

Masa Jabatan: 1943 - 1986

Dalam pemilihan Glondong terdapat dua calon kuat, yaitu antara H. M. Sakroni yang tidak lain adalah anak dari Demang sebelumnya sehingga mendapat dukungan dari Hindia Belanda. Calon kedua adalah H. Abdul Ghofar dengan modal keluarga yang sama agamis, orang tuanya tuan tanah, dan beliau baru pulang menuntut ilmu dari salah satu pondok pesantren di Jombang, Provinsi Jawa Timur.

Dalam pemilihan yang masih menggunakan media potongan lidi daun kolang-kaling (bithing) yang dimasukkan dalam kotak kayu jati, dalam penghitungan di tingkat kawedanan Garung dimenangkan oleh H.M. Sakroni. Kepemimpinan beliau sangat dictator dan karismatik, bertahan sampai 43 tahun. Kegiatan-kegiatan yang menonjol pada saat itu antara lain selapanan desa rutin, pengajian selapanan, pembangunan Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Ma'arif Gesing, serta pembentukan kelompok/pertemuan warga RT.

Hadi Prayitno

3. Hadi Prayitno

Masa Jabatan: 1986 - 1994

Tempat, tanggal lahir: Wonosobo, 17-04-1941.
Ayah: Wongso Pawiro.
Ibu: Kalijem.
Pendidikan: SR.

Dalam kepemimpinan beliau, beberapa capaian keberhasilan antara lain terbentuknya PKK, RW, RT, Kelompok Dasawisma juara lomba Kadarkum "Puteri Emas Hijau" tingkat Kecamatan, pembuatan jalan Kasiman-Lengkong bersama ABRI Masuk Desa (AMD), juara lomba desa, dan rolak jalan padat karya Gajihan-Kasiman.

H. Djamal Abdul Aziz

4. H. Djamal Abdul Aziz

Masa Jabatan: 1994 - 2002

Tempat tanggal lahir: Wonosobo.
Ayah: H. Mahrom.
Pendidikan: SMP.

Pada masa kepemimpinannya terjadi pelebaran Jalan Gemblengan ke Bumirejo, pembuatan rumah dinas guru, dan lain-lain.

Hadi Mansur

5. Hadi Mansur

Masa Jabatan: 2002 - 2007

Tempat tanggal lahir: Wonosobo, 06-08-1959.
Ayah: Samjani.
Ibu: Patimah.
Pendidikan: SMP.

  • Rehab Jembatan Kaliprupuk
  • Berdirinya PAUD An Najah
  • Rolak jalan Gemblengan-Bumirejo
  • Juara bela diri / silat Porkab
  • Terbangunnya Jembatan Kalimaron
  • Juara 1 sepak bola 3 kali berturut-turut
Sri Pangili

6. Sri Pangili

Masa Jabatan: 2007 - 2010

Tempat tanggal lahir: Wonosobo, 03-02-1969.
Ayah: Ahmad S.
Ibu: Kaminem.
Pendidikan: D III.

  • Aspal Dusun Kasiman-Dawuhan
  • Pembangunan gedung kantor desa
  • Perpipaan air bersih Sigandul
  • Betonisasi Blederan-Bumirejo
Topo, S.Kom.I

7. Topo, S.Kom.I

Masa Jabatan: 2011 - 2017

Tempat tanggal lahir: Wonosobo, 21-02-1983.
Ayah: Ilyas Ponijo Muhlani.
Ibu: Muti'ah.
Pendidikan: S1.

Pada periode kepemimpinannya terasa peningkatan di bidang pelayanan masyarakat dan pemerintahan, peningkatan kesadaran masyarakat akan pendidikan formal dan non-formal, olahraga, serta pembangunan infrastruktur yang signifikan, di antaranya: pembangunan SPAL di Dusun Bedilon, Gajihan, dan Gemblengan; pavingisasi di semua dusun; rehab bangunan-bangunan Sekolah Dasar; pembangunan gedung TK Terpadu dan RA Masyitoh Gesing; TPQ Dusun Kasiman; talut penahan tanah dan senderan-senderan jalan; terbentuknya kelompok-kelompok pemanfaat air bersih (Pamsimas); reboisasi dengan penanaman bibit cengkeh; pembangunan gedung Balai Desa; pembangunan irigasi persawahan; pembangunan Masjid Al Furqon Gemblengan; Mushola Bedilon; rehab Masjid Kasiman; pembukaan jalan tembus Gajihan-Bumirejo dan Gesing-Kalikuning; rolak jalan lingkar utara Dusun Bedilon; pembuatan jalan tembus RT 7 Gemblengan; bantuan pendidikan bagi siswa kurang mampu; serta jambanisasi bagi warga, dan lain-lain.

Sri Isman Hartowo

8. Sri Isman Hartowo, S.STP

Masa Jabatan: 2017 - 2018

Tempat tanggal lahir: Wonosobo, 13-12-1984.
Pendidikan: STP.

Beliau adalah Pegawai Negeri Sipil yang bertugas di Kecamatan Garung sebagai Kasi Pemerintahan. Beliau kemudian ditugaskan oleh Bapak Camat Garung untuk memimpin Desa Gemblengan sebagai Penjabat Kepala Desa, menggantikan Kepala Desa periode 2011-2017 yang telah habis masa jabatannya pada tahun 2017 dan belum ada pemilihan Kepala Desa kembali.

Dalam kurun waktu yang sangat singkat, kurang lebih 22 bulan, beliau membawa perubahan yang sangat signifikan di Desa Gemblengan yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, di antaranya: kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa yang selama ini sangat minim kepercayaan; terwujudnya masyarakat Desa Gemblengan yang guyup, rukun, gayeng, dan tentram; terbangunnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersamaan; terlaksananya tata kelola pemerintahan desa yang baik dan transparan di segala bidang; serta bersatunya seluruh warga desa, di antaranya dengan mengadakan karnaval kirap budaya yang selama ini belum pernah dilaksanakan di Desa Gemblengan. Di sektor pembangunan infrastruktur, beliau juga mewujudkan impian dan harapan warga Desa Gemblengan, di antaranya: pembuatan lapangan sepak bola; betonisasi jalan gang di setiap dusun; pengadaan tanah aset desa yang digunakan untuk penambahan kelas lokal SDN 1 Gemblengan; pembangunan jalan lingkar utara Dusun Bedilon; betonisasi jalan RT 007 Gemblengan; dan lain-lain.

Sutrimo

9. Sutrimo

Masa Jabatan: 2019 - 2025

Tempat tanggal lahir: Wonosobo, 21-06-1973.
Bapak: Muhson.
Ibu: Ponem.
Pendidikan: SLTP.

Beliau adalah Kepala Desa yang terpilih pada Pemilihan Kepala Desa tahun 2018.

Sesuai dengan visi dan misi beliau, pada awal kepemimpinannya beliau mengajak kepada semua lembaga desa untuk saling terbuka, berkoordinasi satu dengan yang lainnya, bermusyawarah, dan bekerja sama dalam mewujudkan Desa Gemblengan yang maju, bersatu, dan sejahtera. Di dalam lingkup pemerintahan desa sendiri, beliau selalu menghimbau agar semua perangkat desa bekerja dengan ikhlas, tanggung jawab, disiplin, dan transparansi, berprinsip pada keyakinan dan kejujuran demi kepentingan masyarakat Desa Gemblengan pada umumnya.

Sutrimo

10. Pakdhe Rangga "THE AGRARIAN LORD"

Masa Jabatan: soon

Jabatan: Kepala Dusun (Jalur Aklamasi Sepihak / Titipan Mbah Buyut)
Nama Asli: Raden Mas Rangga Wijaya Kusuma Tani
Moto Hidup: "DEMI KEPENTINGAN PETANI!!!!!"
Visi Misi: SARAP RIYEN!!!!!

Raden Mas Rangga Wijaya Kusuma Tani, atau yang lebih akrab disapa Pakdhe Rangga, adalah seorang Kepala Dusun "jalur titipan" yang mendedikasikan masa jabatannya untuk menjadi penguasa agraris sejati. Mengusung semboyan hidup "Biar dompet tipis, yang penting gabah berlapis," beliau memiliki ambisi absurd untuk menyulap dusunnya menjadi Silicon Valley-nya dunia pertanian Nusantara. Setiap pagi buta, Pakdhe Rangga rutin melakukan patroli "Grebek Sawah" dengan menunggangi sepeda ontel modifikasi berklakson telolet demi memastikan tidak ada hama wereng yang berani mampir ke teritorialnya. Demi mencapai swasembada pangan tingkat rukun tetangga, ia mengeluarkan dekrit yang mewajibkan setiap Kartu Keluarga menanam minimal sepuluh pohon cabai di pekarangan; siapapun yang melanggar akan langsung dihukum menyapu balai dusun selama seminggu penuh. Dibekali insting gaib sebagai "Pawang Padi" yang konon bisa mendeteksi stres tanaman hanya dari desiran angin, serta inisiatif nekat memasang Wi-Fi gratis di gubuk-gubuk sawah agar warganya bisa live streaming saat membajak, Pakdhe Rangga terus memaksa warganya move on dari cara tanam jadul melalui manuver pamungkas andalannya: Program Mantan (Manajemen Tani Andalan).